Anak Demam Tinggi? Ini Pertolongan Pertama DBD yang Orang Tua Perlu Tahu
April 24, 2026
Demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang cukup sering menyerang anak-anak. Ketika anak mulai demam tinggi, orang tua sering panik dan bingung harus melakukan apa. Padahal, pertolongan pertama demam berdarah pada anak sangat penting.
Ketika dihadapkan pada situasi anak mengalami DBD, agar tidak panik dan bingung, orang tua sebaiknya tahu tindakan yang harus dilakukan. Tujuannya agar kondisi anak tetap stabil, mencegah komplikasi, dan membantu proses penanganan medis berjalan lebih optimal. Nah, apa saja ya yang harus diperhatikan?
Kenali Gejala Awal DBD pada Anak
Langkah pertama yang perlu dilakukan dengan peka terhadap gejalanya sejak awal. Namun, gejala awal DBD sering terlihat seperti flu biasa. Tak jarang orang tua baru sadar setelah kondisinya memburuk.
Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam tinggi mendadak, bisa sampai 39–40°C dan biasanya berlangsung 2–7 hari
- Anak terlihat lemas dan lesu, tidak seaktif biasanya dan lebih banyak tidur atau rebahan
- Sakit kepala dan nyeri di belakang mata. Pada anak kecil, biasanya jadi sering rewel, menangis terus, atau tidak nyaman tanpa sebab jelas
- Nyeri otot dan sendi yang membuat anak mengeluh pegal atau malas bergerak
- Mual, muntah, atau nafsu makan menurun, bahkan menolak makan sama sekali
Menurut Kementerian Kesehatan RI, pada fase awal demam berdarah memang sulit dibedakan dari infeksi virus lainnya. Karena itu, orang tua perlu ekstra waspada kalau demam tinggi tidak kunjung turun setelah 2–3 hari, apalagi jika disertai muntah atau nyeri perut.
Apa yang Harus Segera Dilakukan?
Saat anak mulai menunjukkan gejala yang mengarah ke demam berdarah, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah sambil menunggu pemeriksaan dokter, di antaranya:
- Rutin Pantau Suhu Tubuh
Biasakan mencatat suhu tubuh anak setiap 4–6 jam. Kalau demamnya tetap tinggi atau sulit turun, ini sudah jadi tanda peringatan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyarankan pemantauan suhu dan kondisi umum pasien sejak fase awal DBD.
2. Jaga Asupan Cairan
Demam berdarah sangat berisiko menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak. Jadi, pastikan anak tetap minum, sedikit tapi sering. Pilihan cairan yang bisa diberikan antara lain, air putih, oralit, sup atau kaldu bening.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan, cairan yang cukup membantu menjaga volume darah dan mengurangi risiko syok akibat kebocoran plasma.
3. Berikan Obat Penurun Panas yang Aman
Kalau demam tinggi dan membuat anak tidak nyaman, orang tua bisa memberi paracetamol sesuai dosis usia dan berat badan. Paracetamol termasuk obat penurun panas yang relatif aman untuk kasus dugaan DBD.
4. Biarkan Anak Istirahat Total
Jangan membiarkan anak bermain atau beraktivitas. Tubuhnya sedang bekerja keras melawan virus, jadi istirahat cukup sangat penting untuk membantu pemulihan.
5. Tetap Periksakan ke Dokter
Perlu diingat, pertolongan pertama demam berdarah pada anak bukan pengganti pemeriksaan medis, ya BeeFams! Kalau demam tinggi bertahan lebih dari dua hari atau muncul gejala lain, segera bawa anak ke dokter untuk pemeriksaan darah.
Apa yang Tidak Boleh Dilakukan?
Selain mengetahui hal yang bisa dilakukan untuk pertolongan pertama, orang tua juga perlu paham hal-hal yang sebaiknya dihindari saat anak diduga terkena demam berdarah, di antaranya:
- Jangan Sembarang Memberi Obat
Jangan sembarangan memberi obat selain paracetamol tanpa anjuran dokter. Obat seperti aspirin atau ibuprofen bisa meningkatkan risiko perdarahan pada penderita DBD. Kesalahan ini cukup sering terjadi dan bisa memperparah kondisi anak
2. Jangan Paksa Anak Makan
Jangan memaksa anak makan jika ia merasa mual atau muntah. Fokus utama di fase awal adalah menjaga cairan tubuh. Makanan bisa diberikan sedikit demi sedikit saat kondisi mulai membaik.
3. Jangan Lengah
Jangan lengah saat demam mulai turun. Pada DBD, fase paling berisiko justru sering terjadi ketika demam mulai turun, biasanya di hari ke-3 sampai ke-5. Di fase ini, risiko kebocoran plasma dan perdarahan bisa meningkat, jadi pengawasan tetap harus ketat, ya!
4. Hindari Pengobatan Alternatif Tanpa Dasar Medis
Jangan tergiur pengobatan alternatif yang tidak berdasar medisnya. Walau niatnya baik, metode yang belum terbukti bisa menunda penanganan medis yang seharusnya didapat anak.
Apa Tanda Bahayanya?
Dalam pertolongan pertama demam berdarah pada anak, orang tua juga harus mengenali tanda bahaya yang menunjukkan kondisi lebih serius dan butuh penanganan segera. Jadi, waspada saat anak mengalami:
- Nyeri perut hebat dan terus-menerus
- Muntah berulang, apalagi jika disertai muntah darah
- Perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik merah yang makin banyak
- Anak tampak sangat lemas, gelisah, atau justru mengantuk berlebihan
- Tangan dan kaki terasa dingin meski demam sudah turun
- Buang air kecil semakin jarang
WHO menyebutkan, gejala-gejala ini bisa menjadi tanda kebocoran plasma dan risiko syok dengue yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kapan Harus Dibawa ke IGD?
Ada kondisi tertentu yang tidak boleh ditunda dan segeralah bawa anak ke IGD jika:
- Demam tinggi tidak turun setelah 2–3 hari
- Muncul tanda bahaya seperti yang disebutkan di atas
- Anak sulit minum atau menolak semua cairan
- Terjadi perdarahan, sekecil apapun
- Anak punya penyakit penyerta atau riwayat kondisi medis tertentu
Kementerian Kesehatan RI menegaskan, penanganan cepat dengan pemantauan ketat di fasilitas kesehatan bisa menurunkan risiko komplikasi dan mempercepat pemulihan anak yang terkena demam berdarah.
Pertolongan pertama demam berdarah pada anak berfokus pada menjaga kondisi tetap stabil, mencegah dehidrasi, dan mengenali tanda bahaya sedini mungkin. Meski demikian, selama masa pemulihan juga nggak kalah penting.
Nah, pada tahap ini, tubuh anak membutuhkan dukungan nutrisi dan antioksidan untuk membantu proses pemulihan sel-sel dan daya tahan tubuh. Selain dari makanan bergizi, dukungan tambahan produk berbahan propolis yang telah terbukti secara klinis seperti HDI Propoelix™ juga bisa dipertimbangkan untuk membantu proses pemulihan berjalan lebih optimal.
HDI Propoelix™: Dukungan Alami Selama dan Setelah Masa Pemulihan
HDI Propoelix™ merupakan ekstrak propolis dengan formulasi eksklusif yang telah teruji klinis dan kaya antioksidan untuk bantu jaga daya tahan tubuh dan kesehatan secara menyeluruh. Manfaatnya pun beragam:
- Meningkatkan imun dan pertahanan sel tubuh
- Bantu menghambat peradangan
- Kaya antioksidan yang dapat mencegah kerusakan sel-sel tubuh akibat radikal bebas
Selain itu, HDI Propoelix™ juga telah diteliti sebagai terapi suportif pada pasien demam berdarah selama masa perawatan di rumah sakit. Hasilnya menunjukkan potensi dalam membantu meningkatkan jumlah trombosit serta memperpendek masa rawat inap.
Studi Klinis HDI Propoelix™:
- RSUP Persahabatan Jakarta: 106 Pasien (Desember 2009 – Maret 2010)
Terbukti meningkatkan trombosit dan memperpendek masa inap pasien yang terkena demam berdarah.
- RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta: 63 Pasien (Mei 2012 – Juli 2013)
Terbukti meningkatkan trombosit, dan kandungan antiinflamasi dalam HDI Propoelix™ juga terbukti dapat menurunkan kadar TNF-α (inflammatory marker), serta memperpendek masa inap pasien yang terkena demam berdarah.
Untuk penggunaan pada anak-anak, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan atau dokter HDI (HDI Expert Panel) ya, BeeFams, agar dosis dan cara konsumsi sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
BeeFams, bertepatan dengan promo World Health Fest bulan ini, setiap kamu belanja produk HDI favorit di hdi.com atau Center HDI minimal Rp800.000, kamu bisa “tebus murah” HDI Propoelix™ cukup dengan Rp299.000 aja, loh.
Yuk, dapatkan sekarang produknya! •
Sumber:
- https://www.alodokter.com/5-pertolongan-pertama-demam-berdarah-pada-anak-yang-perlu-diketahui
- https://www.nutriclub.co.id/artikel/kesehatan/1-tahun/demam-berdarah-pada-anak
- https://www.healthline.com/health/dengue-fever
Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh secara Alami
8 Manfaat Propolis untuk Kesehatanmu