Apa Saja Kondisi Penyerta Autisme pada Anak? Ini 5 di Antaranya
July 23, 2026
Orang tua yang memiliki anak dengan autisme sering kali menghadapi berbagai tantangan dalam keseharian. Selain kesulitan dalam komunikasi atau interaksi sosial, tidak sedikit anak dengan autisme yang juga mengalami kondisi lain, seperti sulit tidur, pilih-pilih makanan, hingga mudah merasa cemas.
BeeFams, penting dipahami bahwa tidak semua anak dengan autisme mengalami kondisi yang sama. Sebab, autisme merupakan spektrum, sehingga setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Mengenali berbagai kondisi yang dapat menyertai autisme dapat membantu orang tua lebih waspada serta mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Apa Itu Autisme?
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku. Setiap anak dengan autisme memiliki karakteristik, kebutuhan, dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda sehingga disebut sebagai "spektrum". Dikutip dari Mayo Clinic, gejala autisme umumnya mulai terlihat sejak usia dini, meskipun tingkat keparahannya dapat bervariasi pada setiap anak.
Selain karakteristik utama tersebut, sebagian anak dengan autisme juga dapat mengalami kondisi penyerta. Kondisi ini bukan merupakan bagian dari autisme itu sendiri, tetapi dapat terjadi bersamaan dan memerlukan perhatian maupun penanganan yang sesuai.
Apa saja kondisi yang cukup sering menyertai autisme?
1. Gangguan Tidur
Menurut Autism Speaks, gangguan tidur merupakan salah satu kondisi yang paling sering dialami anak dengan autisme. Anak mungkin mengalami kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi sehingga kualitas tidurnya kurang optimal.
Anak dengan autisme juga bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibandingkan anak lainnya. Gangguan produksi hormon melatonin, sensitivitas terhadap suara atau cahaya, efek samping obat tertentu, hingga tingkat kecemasan yang lebih tinggi juga dapat berkontribusi terhadap masalah tidur pada anak dengan autisme.
BeeFams, kurang tidur tidak hanya membuat anak mudah lelah, tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi, perilaku, suasana hati, hingga proses belajar. Oleh karena itu, orang tua dapat membantu dengan menerapkan rutinitas tidur yang konsisten, menciptakan suasana kamar yang nyaman dan minim gangguan, serta berkonsultasi dengan dokter apabila gangguan tidur berlangsung terus-menerus.
2. Masalah Makan
Masalah makan juga cukup umum ditemukan pada anak dengan autisme. Sekitar 70% anak dengan autisme memiliki perilaku makan yang tidak biasa, seperti hanya mau mengonsumsi makanan dengan tekstur, warna, atau rasa tertentu.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi apabila berlangsung dalam jangka panjang. Jika anak hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu atau mengalami kesulitan makan yang cukup berat, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi ya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
3. Gangguan Saluran Pencernaan
Selain masalah makan, anak dengan autisme juga lebih berisiko mengalami gangguan pada saluran pencernaan. Beberapa keluhan yang sering ditemukan meliputi sembelit kronis, nyeri perut, refluks asam lambung, hingga diare.
Penelitian mengenai hubungan antara kesehatan saluran cerna dan otak (gut-brain axis) juga terus berkembang. Care Hospitals menjelaskan, sejumlah studi menemukan adanya keterkaitan antara kesehatan usus dan autisme. Namun, hubungan ini masih terus diteliti, sehingga belum dapat disimpulkan sebagai penyebab autisme.
Apabila anak sering mengeluhkan sakit perut, mengalami sembelit berkepanjangan, atau perubahan pola buang air besar, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
4. Gangguan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD)
ADHD merupakan salah satu kondisi yang cukup sering muncul bersamaan dengan autisme. ADHD ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, perilaku impulsif, dan hiperaktivitas yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada beberapa anak, gejala ADHD dapat terlihat mirip dengan karakteristik autisme, sehingga membedakan keduanya tidak selalu mudah. Oleh karena itu, evaluasi oleh dokter atau tenaga profesional diperlukan agar anak memperoleh diagnosis yang tepat.
Jika memang ditemukan adanya ADHD, penanganan dapat berupa terapi perilaku, pendampingan di sekolah, hingga pemberian obat sesuai anjuran dokter apabila diperlukan.
5. Kecemasan (Anxiety)
Kecemasan juga merupakan kondisi yang cukup sering dialami anak dengan autisme dan dapat muncul ketika ada perubahan rutinitas, berada di lingkungan baru, atau di situasi sosial tertentu.
Namun, tidak semua anak mampu mengungkapkan rasa cemas melalui kata-kata. Sebagian anak justru menunjukkan perubahan perilaku, seperti lebih mudah marah, menangis, mengulang gerakan tertentu, atau tampak gelisah. Pada beberapa kasus, kecemasan juga dapat disertai gejala fisik, seperti jantung berdebar, otot terasa tegang, atau sakit perut.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?
Gangguan tidur, masalah makan, gangguan saluran pencernaan, ADHD, maupun kecemasan tidak selalu dialami oleh setiap anak dengan autisme. Namun, apabila salah satu kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, proses belajar, atau tumbuh kembang anak, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu anak memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan pendampingan yang tepat, anak dengan autisme tetap dapat belajar, berkembang, dan menjalani aktivitas sehari-hari sesuai dengan potensi yang dimilikinya •
FAQ
1. Apakah semua anak dengan autisme mengalami kondisi penyerta?
Tidak. Setiap anak dengan autisme memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada anak yang hanya menunjukkan karakteristik utama autisme, sementara sebagian lainnya dapat mengalami kondisi penyerta, seperti gangguan tidur, masalah makan, gangguan saluran pencernaan, ADHD, atau kecemasan. Autisme merupakan spektrum, kondisi yang dialami setiap anak tidak selalu sama.
2. Mengapa anak dengan autisme sering mengalami gangguan tidur?
Gangguan tidur pada anak dengan autisme dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perubahan produksi hormon melatonin, sensitivitas terhadap cahaya atau suara, efek samping obat tertentu, hingga tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Orang tua dapat membantu dengan menerapkan rutinitas tidur yang konsisten dan menciptakan suasana kamar yang nyaman. Jika gangguan tidur berlangsung dalam waktu lama, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
3. Apakah autisme dan ADHD merupakan kondisi yang sama?
Tidak. Autisme dan ADHD adalah dua kondisi yang berbeda, tetapi keduanya dapat terjadi secara bersamaan pada sebagian anak. Beberapa gejalanya memang tampak mirip, seperti kesulitan berkonsentrasi atau perilaku impulsif, sehingga diperlukan evaluasi oleh dokter atau tenaga profesional untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Sumber:
· https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/symptoms-causes/syc-20352928
· https://www.autismspeaks.org/expert-opinion/managing-anxiety-children-autism
· https://www.autismspeaks.org/medical-conditions-associated-autism
· https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/gangguan-perkembangan/anak-autisme-susah-tidur/
Ide Hampers Lebaran Sehat dan Bermanfaat
Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh secara Alami