cara-melatih-fokus-anak-penyebab-dan-cara-meningkatkan-konsentrasi

Cara Melatih Fokus Anak: Penyebab dan Cara Meningkatkan Konsentrasi

July 24, 2026

BeeFams, pernah nggak sih merasa gemas karena si kecil sulit duduk tenang saat belajar? Baru beberapa menit mengerjakan PR, tiba-tiba sudah melihat keluar jendela, bermain pensil, atau malah sibuk bercerita hal lain. Kondisi seperti ini memang sering membuat orang tua berpikir anak sedang malas atau tidak serius belajar. Padahal, anak susah fokus belum tentu disebabkan oleh rasa malas, loh! 

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi, mulai dari kurang tidur, rasa cemas, hingga kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi.

Nah, kabar baiknya, sebagian besar penyebab tersebut dapat dikenali dan dibantu sejak dini. Dengan memahami penyebabnya, orang tua bisa memberikan pendampingan yang lebih tepat agar anak kembali nyaman belajar dan berkembang sesuai usianya.

Mengapa Fokus Penting bagi Anak?

Kemampuan fokus bukan hanya membantu anak mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Fokus juga berperan dalam proses mengingat informasi, memecahkan masalah, mengikuti instruksi, hingga menyelesaikan tugas sehari-hari.

Mengutip Parents, kemampuan berkonsentrasi anak sebenarnya masih berkembang seiring pertambahan usia. Artinya, wajar jika anak sesekali mudah terdistraksi. Namun, apabila kesulitan fokus terjadi terus-menerus hingga mengganggu aktivitas belajar maupun kesehariannya, orang tua perlu mencari penyebabnya, ya!

5 Penyebab Anak Susah Fokus

Tidak semua anak yang sulit berkonsentrasi mengalami gangguan tertentu. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak kehilangan fokus.

1. Kurang Tidur

Kurang tidur menjadi salah satu penyebab paling umum. Anak usia sekolah idealnya membutuhkan sekitar 9–11 jam tidur setiap malam. Saat kebutuhan tidur tidak terpenuhi, otak lebih sulit memproses informasi sehingga anak lebih mudah mengantuk, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi.

2. Cemas atau Stres

Anak juga bisa kehilangan fokus ketika pikirannya dipenuhi rasa khawatir. Misalnya takut dimarahi guru, di sekolah sendiri tanpa orang tua, takut nilainya jelek, baru pindah sekolah, atau sedang menghadapi masalah dengan teman.

Saat anak merasa cemas, energi otaknya lebih banyak digunakan untuk merespons emosi tersebut sehingga konsentrasi belajar menjadi berkurang.

3. Tidak Paham Materi Pelajaran

Bayangkan ketika orang dewasa diminta mengerjakan sesuatu yang tidak dimengerti. Lama-kelamaan pasti kehilangan semangat. Hal yang sama juga bisa dialami anak, loh! Ketika materi pelajaran terasa terlalu sulit atau penjelasan guru belum dipahami, anak cenderung berhenti memperhatikan dan lebih mudah terdistraksi.

4. Banyak Gangguan di Sekitar

Suara televisi, notifikasi gadget, mainan di meja belajar, hingga adik yang sedang bermain bisa membuat perhatian anak mudah terpecah. Oleh karena itu, lingkungan belajar yang tenang juga berperan penting dalam membantu anak berkonsentrasi.

5. Gangguan Belajar atau Kondisi Medis Tertentu

Dalam beberapa kasus, kesulitan fokus juga dapat berkaitan dengan gangguan belajar, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, atau kondisi perkembangan tertentu.

Namun BeeFams, anak susah fokus tidak selalu berarti mengalami ADHD atau gangguan perhatian dan hiperaktivitas. Sejumlah ahli menjelaskan, rasa bosan, kurang tidur, stres, hingga metode belajar yang kurang sesuai juga dapat menyebabkan anak tampak sulit berkonsentrasi.

Jika keluhan berlangsung lama atau semakin berat, sebaiknya konsultasikan ke dokter atau psikolog anak untuk mendapatkan evaluasi yang tepat.

6 Cara Membantu Anak Lebih Fokus Saat Belajar

Kabar baiknya, kemampuan fokus dapat terus dilatih. Berikut ini beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan di rumah.

1. Fokus pada Satu Tugas

Hindari meminta anak mengerjakan banyak hal sekaligus. Misalnya, menyelesaikan PR matematika terlebih dahulu sebelum berpindah ke pelajaran lain. Cara ini membantu otak anak tetap fokus pada satu tujuan.

2. Kurangi Distraksi

Matikan televisi, jauhkan gadget yang tidak diperlukan, dan siapkan area belajar yang nyaman. Lingkungan yang lebih tenang membuat anak lebih mudah mempertahankan konsentrasi.

3. Buat Sesi Belajar Lebih Singkat

Daripada belajar satu jam tanpa jeda, cobalah membagi waktu menjadi beberapa sesi singkat diselingi istirahat beberapa menit. Anak bisa lebih mudah mempertahankan perhatian jika belajar dalam durasi yang tidak terlalu panjang.

4. Beri Waktu Bergerak

Sesekali ajak anak melakukan peregangan ringan, berjalan sebentar, atau bermain di luar rumah sebelum kembali belajar. Aktivitas fisik bisa membantu meningkatkan aliran darah ke otak sehingga anak kembali lebih segar.

5. Latihan Konsentrasi

Beri si kecil aktivitas yang membutuhkan konsentrasi misalnya, menyelesaikan permainan teka-teki atau bantu menyiapkan makan malam. Selain itu, kita bisa mengajak si kecil memperhatikan detail kecil dan menarik di sekitar seperti, memperhatikan burung yang hinggap di pohon atau memerhatikan bentuk serta tekstur benda-benda yang ada di rumah.

6. Berikan Apresiasi

Saat anak berhasil berkonsentrasi selama beberapa menit lebih lama dibanding sebelumnya, berikan pujian. Apresiasi seperti ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat anak lebih termotivasi untuk mencoba lagi.

Peran Nutrisi dalam Mendukung Konsentrasi Anak

Selain pola belajar dan waktu istirahat, asupan nutrisi juga memiliki peran penting terhadap perkembangan otak. Seperti dijelaskan Harvard Health Publishing, proses perkembangan otak berlangsung sangat pesat sejak awal kehidupan dan dipengaruhi oleh berbagai nutrisi penting, seperti protein, zat besi, zinc, kolin, vitamin B, vitamin D, serta asam lemak omega-3. Nutrisi tersebut berperan dalam pembentukan jaringan saraf, memori, perhatian, hingga kemampuan belajar.

Namun, kondisi ini masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga, termasuk di Indonesia. Tidak sedikit anak yang masih pilih-pilih makanan, kurang menyukai sayur atau ikan, atau memiliki pola makan yang kurang beragam sehingga asupan nutrisinya belum optimal.

Karena itu, selain membiasakan pola makan bergizi seimbang, orang tua juga dapat mempertimbangkan pemberian suplemen sesuai kebutuhan anak sebagai pelengkap pola makan sehari-hari.

Dukung Tumbuh Kembang dan Konsentrasi Anak dengan Nutrisi yang Tepat

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah HDI KIDS Q Bees. Suplemen anak ini diformulasikan dengan berbagai bahan alami, seperti bee pollen yang mengandung berbagai vitamin, mineral, asam amino, dan antioksidan yang membantu mendukung daya tahan tubuh. Ada juga ekstrak Bacopa monnieri diketahui dapat membantu meningkatkan kesehatan otak, termasuk daya ingat, dan konsentrasi.

HDI KIDS Q Bees juga mengandung ekstrak Lithothamnium calcareum, sejenis alga merah alami yang mendukung kesehatan tulang, otot, dan saraf anak. Ditambah Clover Honey sebagai sumber energi alami, memiliki sifat antibakteri dan mendukung kesehatan secara keseluruhan.   

Sementara itu, kandungan ekstrak black elderberry dan ekstrak rose hips mendukung sistem kekebalan tubuh, sehingga anak tetap aktif menjalani berbagai aktivitasnya.

Kamu bisa mendapatkan HDI KIDS Q Bees melalui hdi.com atau Center HDI terdekat. Produk ini juga tersedia dalam Kids Bee Set bersama HDI KIDS Gummy Bees dan HDI KIDS Hunny Bees, loh!

Jangan lewatkan juga promo #GenerasiLebahHebat. Setiap pembelian 2 HDI KIDS Hunny Bees, BeeFams dapat menebus HDI KIDS Q Bees menggunakan nectar. Promo berlaku hingga 31 Juli 2026 atau selama persediaan masih ada.

Yuk, lengkapi kebutuhan nutrisi harian si kecil agar ia dapat belajar, bermain, dan tumbuh dengan lebih optimal.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter apabila anak:

  • Sulit fokus hampir setiap hari selama beberapa bulan
  • Prestasi belajar terus menurun
  • Kesulitan menyelesaikan aktivitas sederhana sesuai usianya
  • Gangguan tidur, perilaku yang sangat impulsif, atau gangguan perkembangan lainnya
  • Guru juga melaporkan kesulitan konsentrasi yang sama di sekolah.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab yang mendasari, sehingga penanganan dapat diberikan lebih cepat.


FAQ

1. Apakah anak susah fokus selalu berarti ADHD?

Tidak. Sebagian besar anak yang sulit fokus belum tentu mengalami ADHD. Kurang tidur, stres, kecemasan, lingkungan yang penuh distraksi, hingga belum memahami materi pelajaran juga dapat menyebabkan anak tampak sulit berkonsentrasi.

2. Berapa lama rentang fokus anak saat belajar?

Kemampuan fokus berbeda pada setiap usia dan kondisi. Orang tua sebaiknya tidak memaksakan anak belajar terlalu lama tanpa jeda.

3. Apakah makanan berpengaruh terhadap konsentrasi anak?

Ya. Nutrisi seperti protein, zat besi, zinc, vitamin B, vitamin D, kolin, dan omega-3 berperan penting dalam perkembangan otak, memori, dan perhatian anak.



Sumber:

  • https://www.parents.com/kids/development/intellectual/how-to-improve-attention-spans/ 
  • https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/anak-susah-fokus/
  • https://www.health.harvard.edu/blog/brain-food-children-nutrition-2018012313168 
  • https://www.acc.edu.au/blog/why-your-child-cant-pay-attention/ 


Copyrights © 2026 by HDI. All Rights Reserved.
TUV-SUD KAN