Bukan Cuma Otak, Organ Ini Juga Berhubungan dengan Individu Autisme
June 19, 2026
BeeFams, tahukah kamu kesehatan usus ternyata menjadi salah satu topik yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan autisme? Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan, sebagian individu dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) memiliki komposisi mikrobiota usus yang berbeda dibandingkan kelompok tanpa ASD.
Temuan ini membuat para peneliti semakin tertarik mempelajari hubungan antara usus dan otak yang dikenal sebagai gut-brain axis. Jalur komunikasi dua arah ini memungkinkan usus dan otak saling memengaruhi melalui saraf, hormon, sistem kekebalan tubuh, hingga senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme di dalam usus.
Namun, penting dipahami juga, autisme tidak terkait dengan satu faktor saja. Hingga saat ini, para ahli meyakini autisme merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk genetik dan lingkungan. Meski begitu, penelitian tentang mikrobiota usus terus berkembang karena dianggap dapat membantu memahami kondisi autisme secara lebih menyeluruh.
Apa Itu Mikrobiota Usus?
Mikrobiota usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup secara alami di saluran pencernaan, seperti bakteri, jamur, virus, dan mikroba lainnya. Jumlahnya sangat banyak, bahkan mencapai triliunan mikroorganisme!
Meski terdengar menyeramkan, sebagian besar mikroorganisme ini justru berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh kita, lho! Mereka membantu mencerna makanan, menghasilkan vitamin tertentu, mendukung sistem kekebalan tubuh, hingga membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Ketika jumlah dan jenis mikroorganisme tersebut berada dalam kondisi seimbang, usus dapat bekerja secara optimal. Sebaliknya, ketidakseimbangan mikrobiota usus atau yang dikenal sebagai disbiosis dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan.
Usus dan Otak Ternyata Saling Terhubung
Dulu banyak orang menganggap usus hanya berfungsi untuk mencerna makanan. Padahal, penelitian modern menunjukkan, usus memiliki hubungan yang sangat erat dengan otak. Hubungan ini dikenal sebagai gut-brain axis atau sumbu usus-otak. Melalui jalur ini, usus dan otak dapat saling bertukar informasi menggunakan, sistem saraf, sistem imun, hormon, dan senyawa metabolit yang dihasilkan mikrobiota usus
Menariknya, beberapa bakteri usus juga diketahui berperan dalam produksi atau regulasi senyawa yang berkaitan dengan suasana hati, perilaku, dan fungsi otak, seperti serotonin. Oleh sebab itu, para ilmuwan semakin tertarik meneliti apakah perubahan mikrobiota usus dapat berkontribusi terhadap berbagai kondisi neurologis, termasuk autisme.
Gangguan Pencernaan Ditemukan pada Individu dengan Autisme
Salah satu temuan yang cukup konsisten dalam berbagai penelitian adanya gangguan pencernaan pada individu dengan autisme. Menurut artikel yang dimuat Care Hospitals, anak dengan ASD lebih sering mengalami berbagai keluhan pencernaan, seperti sembelit, diare, kembung, hingga sensitivitas terhadap makanan tertentu.
Sejumlah studi juga menunjukkan, anak dengan autisme lebih berisiko mengalami masalah pencernaan dibandingkan anak tanpa autisme. Inilah yang membuat para peneliti mulai mempertanyakan apakah ada hubungan antara kondisi usus dan gejala yang dialami individu dengan autisme.
Komposisi Mikrobiota Usus yang Berbeda
Menurut studi yang diterbitkan di Nature Communications, anak-anak dengan ASD memiliki lebih sedikit metabolit neuroaktif yang dihasilkan mikroba usus ketika mereka memecah komponen makanan seperti asam amino dan karbohidrat kompleks untuk menciptakan energi dan berkomunikasi dengan sistem saraf.
Perubahan dalam jumlah relatif metabolit tersebut dapat mengganggu sinyal antara usus dan otak, memengaruhi emosi dan perilaku terkait. Namun, para peneliti belum menemukan satu pola bakteri yang sama pada semua individu dengan autisme. Dengan kata lain, tidak ada "bakteri autisme" yang dapat dijadikan penanda tunggal. Karenanya, para ahli lebih sering menyebut adanya perbedaan atau ketidakseimbangan mikrobiota usus dibandingkan mencari satu jenis bakteri tertentu sebagai penyebab autisme.
Dipengaruhi Banyak Faktor
Meskipun banyak penelitian menemukan hubungan antara autisme dan mikrobiota usus, para ahli tidak langsung menyimpulkan gangguan mikrobiota usus menyebabkan autisme. Hingga saat ini, autisme dipahami sebagai kondisi neurodevelopmental yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, terutama faktor genetik yang berinteraksi dengan faktor lingkungan.
Penelitian yang ada saat ini baru menunjukkan adanya hubungan atau keterkaitan antara autisme dan mikrobiota usus, bukan hubungan sebab-akibat yang pasti. Karena itu, para ahli masih terus meneliti bagaimana peran mikrobiota usus dalam kondisi autisme.
Menjaga Kesehatan Usus Tetap Penting
Walaupun penelitian mengenai autisme dan mikrobiota usus masih terus berkembang, menjaga kesehatan usus tetap merupakan langkah yang baik untuk kesehatan secara keseluruhan.
Usus yang sehat dapat membantu mendukung:
- Proses pencernaan yang optimal
- Penyerapan nutrisi
- Fungsi sistem imun
- Kesehatan metabolisme tubuh
- Kenyamanan saluran cerna sehari-hari
Salah satu cara menjaga kesehatan usus bisa dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang yang kaya serat dari buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, aktivitas fisik yang cukup, tidur berkualitas, serta mengelola stres juga berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
BeeFams, hubungan antara autisme dan mikrobiota usus masih menjadi salah satu topik yang terus diteliti para ilmuwan. Meskipun belum dapat disimpulkan sebagai penyebab autisme, berbagai penelitian menunjukkan, kesehatan usus memiliki peran penting dalam kesehatan tubuh secara keseluruhan dan dapat memengaruhi berbagai proses biologis dalam tubuh.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan saluran pencernaan melalui pola hidup sehat tetap menjadi langkah yang baik untuk dilakukan sejak dini. Mulai dari memperbanyak konsumsi makanan kaya serat, tidur yang cukup, hingga aktif bergerak setiap hari, kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan mendukung kesehatan jangka panjang •
Sumber:
- https://www.halodoc.com/artikel/apa-artinya-autis-pahami-bukan-penyakit-menular
- https://www.carehospitals.com/id/news-media-detail/autism-and-gut-health-debunking-myths-and-advancing-treatment-strategies-dr-vittal-kumar-kesireddy
- https://hellosehat.com/pencernaan/mikrobiota-usus/
- https://www.uclahealth.org/news/article/kids-with-autism-gut-microbiome-brain
- https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-1813448/bakteri-di-usus-anak-autis-berbeda-dengan-anak-lain
FAQ
1. Apakah autisme disebabkan oleh gangguan mikrobiota usus?
Hingga saat ini belum ada bukti gangguan mikrobiota usus menjadi penyebab tunggal autisme. Penelitian baru menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, bukan hubungan sebab-akibat yang pasti.
2. Apa perbedaan mikrobiota usus dan mikrobiom usus?
Mikrobiota usus adalah kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan, sedangkan mikrobiom mencakup seluruh mikroorganisme beserta materi genetiknya seperti bakteri, virus, dan lainnya. Dalam pembahasan autisme, istilah mikrobiota usus lebih sering digunakan saat membahas keseimbangan jenis dan jumlah mikroorganisme yang hidup di usus.
3. Apa itu gut-brain axis?
Gut-brain axis adalah jalur komunikasi dua arah antara usus dan otak yang melibatkan sistem saraf, hormon, sistem imun, serta senyawa yang dihasilkan mikrobiota usus.
Anak Makin Cerdas Lewat Aktivitas Fisik
Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh secara Alami