anemia-kambuh-saat-ramadan-bolehkah-tidak-berpuasa

Anemia Kambuh Saat Ramadan, Bolehkah Tidak Berpuasa?

March 2, 2026

Beberapa waktu lalu melalui Instagram Story @hdi.info, ada yang mengajukan pertanyaan di segmen #TanyaUstad tentang hukum berpuasa bagi seseorang yang memiliki riwayat anemia. Bagaimana jika kondisi kambuh dan tubuh tidak kuat menjalani puasa? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

BeeFams, pertanyaan seperti ini cukup sering muncul, terutama menjelang Ramadan. Banyak yang ingin tetap menjalankan ibadah puasa dengan maksimal, tetapi di sisi lain khawatir jika kondisi kesehatan justru memburuk. Berikut pertanyaan yang diajukan:

"Saya memiliki riwayat anemia. Bagaimana cara menjaga kondisi selama Ramadan agar tetap bisa berpuasa dengan baik? Dan bagaimana hukumnya jika sedang kambuh sehingga saya tidak mampu berpuasa?”

Dewan Pengawas Syariah HDI Assoc. Prof. Dr. H. M. Sofwan Jauhari, Lc., M.Ag. dan Fauzan Sugiyono, Lc. M.Ag. menjelaskan, anemia memang termasuk penyakit. Namun,  dalam ilmu fikih tidak semua penyakit otomatis membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa Ramadan. 

 

Prof. Dr. H. M. Sofwan Jauhari, Lc., M.Ag  



Fauzan Sugiyono, Lc. M.Ag   

Seseorang diperbolehkan tidak berpuasa atau berbuka jika puasa tersebut berpotensi  memperparah kondisi, menghambat proses penyembuhan, dan menimbulkan bahaya yang nyata bagi tubuh.

Dalam hukum Islam ada kaidah umum yang bersumber dari hadis:

"لا ضرر ولا ضرار"

“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.”(HR. Ibnu Mājah dan lainnya)

Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi ke dokter yang mengetahui ketentuan agama Islam. Penentuan apakah anemianya membahayakan atau tidak jika berpuasa, dikembalikan kepada dokter yang mengetahui gambaran penyakit tersebut. Hal ini juga memiliki kaidah fikih : “Hukum atas sesuatu bergantung pada gambaran atau pengetahuan atas hakikatnya.”

“Kalau dokter menyatakan masih mampu dan tidak membahayakan, maka tetap wajib berpuasa. Namun, kalau menurut dokter puasa membahayakan atau dapat memperburuk kondisi, maka boleh tidak berpuasa dan wajib mengqada di hari lain setelah Ramadan, sebelum datang Ramadan berikutnya,” urai Ustaz Fauzan.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ} [البقرة: 185]

Artinya :  

"Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain..."

Ayat ini menjadi dasar bahwa:

1. Puasa di bulan Ramadan hukumnya wajib.

2. Orang sakit dan musafir mendapatkan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa.

3. Kewajibannya adalah mengqada pada hari lain setelah Ramadan.

Ustaz Sofwan menambahkan, bagi seseorang yang memiliki penyakit tergolong kronis, tidak dapat disembuhkan dokter, dan tidak mampu berpuasa selamanya maka dapat diganti dengan membayar fidiah. Para ulama menjelaskan, orang yang boleh membayar fidiah dan tidak mengqada  hanya berlaku bagi:

1. Orang tua renta yang tidak bisa menjadi muda kembali, dan tidak mampu puasa.

2. Orang sakit menahun (kronis) yang tidak ada harapan sembuh

Fidiahnya dengan memberi makan satu orang miskin, untuk setiap satu hari puasa, dengan menu sesuai dengan kebiasaan orang meninggalkan puasa minimal satu mud (sekitar 6-7 ons) bahan makanan yang biasa dikonsumsi.

Kondisi Stabil Bisa Berpuasa

Sementara itu, dr. A. Rousdy Noor, MMRS, HIDUP (HDI Inovasi Dinamik Unggul Panel) Expert Panel yang berfokus pada Manajemen Kesehatan Holistik menjelaskan, anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari normal. Sebagai bagian dari sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh, jika hemoglobin rendah, tubuh akan kekurangan oksigen. Akibatnya, seseorang bisa merasa mudah lelah, sakit kepala, sesak napas, kulit tampak pucat, jantung berdebar, dan terkadang tekanan darah rendah. 

dr. A. Rousdy Noor, MMRS

“Secara umum, orang dengan anemia ringan sampai sedang yang kondisinya stabil masih dapat berpuasa, terutama jika kadar hemoglobin di atas 7 g/dL. Namun, pada anemia berat dengan hemoglobin di bawah 7 g/dL, kondisi yang tidak stabil, atau saat menjalani pengobatan intensif, puasa sebaiknya dipertimbangkan kembali,” tambah dr. Rousdy.

Dalam situasi ini, lanjut dr. Rousdy, konsultasi dengan dokter sebelum Ramadan sangat dianjurkan. Pemeriksaan sederhana dapat membantu mengetahui kadar hemoglobin dan memastikan apakah tubuh siap untuk berpuasa.

Sahur adalah Kunci

Sahur menjadi waktu untuk mengisi sumber energi dan nutrisi sepanjang hari. Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan waktu sahur ya, BeeFams! Menu sahur sebaiknya terdiri dari protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks agar energi dilepaskan secara perlahan, sehingga tubuh tidak cepat lemas. Selain itu, menu sahur juga perlu kaya zat besi yang merupakan bahan utama pembentukan hemoglobin.

Sumber zat besi yang baik antara lain daging merah, hati, ayam, ikan, dan telur. Dari sumber nabati, zat besi bisa didapat dari kacang-kacangan, lentil, sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, biji-bijian, serta buah kering. Kurma juga merupakan pilihan yang baik. 

Selain itu, memulai berbuka dengan kurma tidak hanya mengikuti sunnah, tetapi juga membantu menambah asupan zat besi dan energi. Untuk membantu penyerapan zat besi, tubuh kita juga memerlukan vitamin C yang bisa didapat dari jeruk, jambu biji, stroberi, atau tomat saat sahur dan berbuka puasa. 

Baca juga: 7 Menu Sahur Sehat Biar Nggak Gampang Lemas

Nah, sebaliknya, ada beberapa hal yang juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Apa aja, ya?

  • Teh dan kopi yang diminum bersamaan atau segera setelah makan dapat mengurangi penyerapan zat besi. Kafein juga dapat membuat tubuh lebih banyak kehilangan cairan sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. 
  • Konsumsi makanan tinggi kalsium bersamaan dengan makanan kaya zat besi bisa mengganggu penyerapannya. 
  • Gula sederhana sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan karena dapat membuat gula darah cepat naik lalu turun, sehingga tubuh mudah lelah.

Hidrasi sering kali dianggap sepele, padahal sangat penting bagi penderita anemia. Kekurangan cairan dapat memperparah pusing, lemas, dan sulit berkonsentrasi. Maka dari itu, saat waktu berbuka hingga sahur, usahakan minum air putih yang cukup secara bertahap. Air putih merupakan pilihan terbaik dibandingkan minuman manis atau berkafein. 

“Tubuh yang cukup cairan membantu peredaran darah tetap lancar dan organ tubuh bekerja optimal,” tambah dr. Rousdy.

Lengkapi Nutrisi dengan Produk Perlebahan

BeeFams, produk perlebahan juga bisa jadi pelengkap nutrisi yang dibutuhkan selama berpuasa. Mulai dari madu, bee pollen, hingga propolis diketahui mengandung berbagai vitamin, mineral, dan antioksidan. Madu misalnya, dapat menjadi sumber energi alami saat sahur dan berbuka, serta mengandung mineral yang mendukung pembentukan darah.

Bee pollen atau serbuk sari lebah dikenal memiliki kandungan gizi yang padat, seperti protein, vitamin, mineral, dan zat besi. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh sulit memproduksi hemoglobin dengan baik. Selain itu, juga mengandung antioksidan yang membantu melindungi sel darah merah dari kerusakan. Beberapa laporan menunjukkan konsumsi bee pollen dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah,” papar dr. Rousdy.

Sementara itu, propolis mengandung vitamin B kompleks yang penting dalam pembentukan sel darah merah. Kekurangan vitamin B6, misalnya, dapat menyebabkan anemia. Antioksidan dalam propolis juga membantu melindungi sel tubuh dari stres oksidatif yang dapat memperburuk kondisi anemia.

“Penderita anemia juga perlu peka terhadap sinyal tubuhnya, ya. Kalau saat berpuasa muncul pusing berat, lemas ekstrem, jantung berdebar hebat, sakit kepala berat, atau hampir pingsan, puasa sebaiknya segera dibatalkan. Memaksakan diri justru dapat membahayakan kesehatan dan mengganggu ibadah secara keseluruhan.” pesan dr. Rousdy.

Nah, BeeFams, untuk menemani puasa kamu, kamu bisa coba konsumsi beberapa produk rekomendasi HDI berikut ini, ya! 

HDI Clover Honey 

HDI Pollenergy 520


HDI Propoelix™ 




Copyrights © 2026 by HDI. All Rights Reserved.
TUV-SUD KAN