Apa itu Osteopenia?
October 2, 2025
BeeFams, pernah dengar tentang osteopenia? Masalah kesehatan yang satu ini sering kali luput dari perhatian, padahal bisa jadi awal mula gangguan tulang yang lebih serius. Banyak yang bahkan nggak sadar kalau mengalami osteopenia, sampai akhirnya baru ketahuan saat kondisi tulang sudah rapuh dan mudah patah.
Osteopenia merupakan kondisi berkurangnya massa tulang sehingga tulang jadi lebih lemah. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, tapi paling sering terjadi pada orang berusia lanjut, terutama wanita. Walau begitu, jika dibiarkan, osteopenia bisa berkembang jadi osteoporosis yang membuat tulang mudah patah, terutama di bagian pinggul, tulang belakang, atau pergelangan tangan yang merupakan area penopang beban tubuh.
Namun, osteopenia biasanya tidak menimbulkan gejala khusus. Itu sebabnya banyak yang baru menyadari saat sudah masuk tahap osteoporosis. Berikut ini beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena osteopenia, di antaranya:
- Jarang berolahraga
- Riwayat keluarga dengan osteoporosis atau masalah kepadatan tulang, khususnya pada usia 50 tahun ke atas
- Wanita yang mengalami menopause dini (sebelum usia 45 tahun).
- Asupan vitamin D dan kalsium yang kurang tercukupi
- Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, atau kafein berlebihan
- Kondisi medis tertentu, seperti rheumatoid arthritis dan hipertiroidisme
Seiring bertambahnya usia, tulang ikut mengalami perubahan. Saat masih muda, tubuh bisa membentuk tulang baru lebih cepat dibandingkan mengurai tulang lama. Tapi setelah melewati usia 35 tahun, prosesnya berbalik, tulang lama lebih cepat rusak dibandingkan tubuh menciptakan tulang baru. Nah, inilah yang menyebabkan massa tulang berkurang, membuat tulang lebih lemah, dan memicu osteopenia.
Bagaimana mencegah osteopenia?
1. Cukupi kebutuhan vitamin D dan kalsium
Setiap orang butuh sekitar 800–1.000 IU vitamin D dan 1.200 mg kalsium per hari. Sumbernya bisa dari sayuran hijau seperti brokoli dan bayam, ikan salmon, telur, kacang-kacangan, hingga produk susu seperti yoghurt dan keju. Vitamin D juga bisa diperoleh dengan berjemur di bawah matahari pagi selama 15–20 menit, setidaknya 3 kali seminggu.
2. Pola hidup sehat
Rutin olahraga minimal 30 menit sehari, seperti jalan kaki, joging, atau olahraga beban ringan, bisa membantu menguatkan tulang. Jangan lupa hindari rokok dan alkohol, batasi konsumsi kafein, serta gunakan obat-obatan tertentu (misalnya kortikosteroid) hanya dengan pengawasan dokter.
3. Tes kepadatan tulang
Untuk wanita yang sudah menopause atau berusia di atas 65 tahun, sebaiknya rutin cek kepadatan tulang supaya bisa mendeteksi masalah sejak dini.
BeeFams, tulang yang kuat adalah investasi untuk masa depan. Bukan cuma agar terhindar dari patah tulang, tapi juga supaya kita bisa tetap aktif dan bergerak bebas hingga usia lanjut. Kamu ingin dapat dukungan ekstra untuk lindungi tulangmu? Pas banget nih ada kabar baik: HDI lagi ada promo spesial Stronger Together!
Cukup belanja salah satu paket Bee Set atau Better Set di hdi.com atau Center HDI selama Oktober 2025, kamu bisa hemat 20% (syarat dan ketentuan berlaku) untuk pembelian HDI Bone & Joint Health, suplemen yang diformulasikan untuk menjaga kesehatan tulang dan persendian.
Manfaatnya bukan cuma meredakan nyeri atau peradangan, tapi juga penting untuk pencegahan. Jika dikonsumsi rutin sejak usia 30 tahun, HDI Bone & Joint Health bisa membantu menjaga kepadatan tulang, fleksibilitas sendi, sekaligus melindungi mobilitas di masa depan.
Hal ini berkat kandungan alaminya yang dirancang khusus untuk mendukung kesehatan tulang dan sendi, seperti: ekstrak propolis yang membantu mengurangi perubahan pada tulang rawan akibat proses penuaan dan plant based kalsium (algae) untuk menjaga kepadatan tulang agar tetap kuat.
Jadi, jangan tunggu sampai tulang rapuh, ya. Yuk, rawat tulangmu dari sekarang! •
Sumber:
Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh secara Alami
8 Manfaat Propolis untuk Kesehatanmu