DBD pada Anak: Kenali Ciri-ciri, Gejala Awal, dan Tanda Bahaya
January 26, 2026
BeeFams, tahu nggak sih kalau ciri-ciri DBD pada anak sering kali nggak langsung terlihat jelas di awal? Malah, banyak yang beranggapan kalau itu cuma demam biasa. Padahal pada anak, kondisi DBD bisa berkembang lebih cepat dan berisiko kalau terlambat ditangani.
Gejala Awal DBD pada Anak
Ciri-ciri DBD pada anak memang kadang mengecoh. Banyak anak yang kelihatannya seperti terkena flu atau kelelahan biasa. Namun, ada beberapa gejala awal yang sebaiknya jangan diabaikan.
Ciri yang paling umum, demam tinggi mendadak. Suhu tubuh anak bisa naik hingga 39–40°C dan biasanya berlangsung selama 2–7 hari. Demam ini sering kali sulit turun meskipun sudah diberi obat penurun panas.
Selain demam, anak juga bisa menunjukkan:
- Lemas dan lesu, tidak mau bermain, lebih sering tidur
- Rewel atau mudah menangis, terutama pada balita yang belum bisa mengungkapkan keluhan
- Sakit kepala dan nyeri di belakang mata, meski anak sering tidak mengatakannya secara jelas
- Nyeri otot dan sendi yang membuat anak tampak malas bergerak
- Mual, muntah, atau nafsu makan menurun
Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala awal demam berdarah pada anak memang sulit dibedakan dari infeksi virus lainnya. Karena itu, orang tua perlu waspada.
Ciri–Ciri DBD pada Anak yang Berbeda dari Dewasa
- Anak cenderung lebih cepat mengalami penurunan kondisi umum sampai mereka tampak sangat lemas, tidak berenergi, dan kurang responsif meskipun sebelumnya masih aktif.
- Keluhan nyeri sering kurang spesifik. Kalau orang dewasa bisa mengeluhkan nyeri sendi atau sakit kepala, anak sering hanya menunjukkan rewel, gelisah, atau menangis tanpa sebab yang jelas.
- Risiko dehidrasi lebih tinggi pada anak karena saat demam tinggi disertai muntah, tetapi asupan minum berkurang, sehingga anak jadi lebih cepat kekurangan cairan.
- Tanda perdarahan bisa lebih halus, kadang hanya berupa mimisan ringan, gusi berdarah saat menyikat gigi, atau bintik merah kecil di kulit.
Fase Kritis DBD pada Anak
Fase ini biasanya muncul saat demam mulai turun, sekitar hari ke-3 sampai ke-5 sejak gejala pertama. Namun, banyak orang tua justru merasa lega ketika demam anak mulai mereda. Padahal, pada DBD, fase paling berbahaya sering terjadi justru setelah demam turun. Berikut ini beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
- Nyeri perut hebat dan terus-menerus.
- Muntah berulang, terutama jika muntah darah atau berwarna gelap.
- Anak tampak sangat lemas, gelisah, atau mengantuk berlebihan.
- Tangan dan kaki terasa dingin meski suhu tubuh tidak tinggi.
- Penurunan jumlah buang air kecil.
- Perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik merah yang makin banyak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, tanda-tanda tersebut dapat mengindikasikan kebocoran plasma (keluarnya carian dari pembuluh darah) dan risiko syok dengue. Pada anak, kondisi ini bisa berkembang cepat, sehingga membutuhkan penanganan medis segera. Apalagi jika anak memiliki riwayat penyakit lain yang bisa memperberat kondisinya.
Apa yang Harus Dipantau Orang Tua di Rumah?
- Suhu Tubuh
Catat suhu tubuh anak setiap 4–6 jam. Perhatikan apakah demam sulit turun atau justru turun tiba-tiba disertai kondisi anak yang tampak makin lemah.
- Asupan Cairan
Pastikan anak tetap minum, meski sedikit tapi sering. Dehidrasi adalah masalah serius pada DBD anak. Perhatikan juga warna urine. Jika semakin sedikit dan pekat, itu tanda anak kurang cairan.
- Perilaku dan Kesadaran Anak
Perubahan perilaku seperti anak menjadi sangat rewel, linglung, atau terlalu mengantuk perlu diwaspadai.
- Tanda Perdarahan
Periksa hidung, gusi, dan kulit anak.
- Hasil Pemeriksaan Dokter
Kalau anak sudah diperiksa dan menjalani tes darah, ikuti jadwal kontrol yang dianjurkan. Pemeriksaan ulang sering kali diperlukan untuk memantau trombosit dan kondisi darah lainnya.
Selain mengenali ciri-ciri DBD pada anak, peran orang tua sangat penting dalam mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat. Jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter meskipun gejala terlihat ringan.
Hindari juga pemberian obat sembarangan, obat seperti aspirin atau ibuprofen tidak dianjurkan pada DBD karena bisa meningkatkan risiko perdarahan. Jadi, selalu gunakan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, ya!
Selain penanganan medis yang menjadi prioritas utama, menjaga daya tahan tubuh anak selama masa pemulihan juga penting. Produk berbahan dasar ekstrak propolis seperti HDI Propoelix™ siap jadi andalan untuk pendamping nutrisi dan meningkatkan daya tubuh!
HDI Propoelix™ Bantu Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Anak Agar Lebih Sehat
HDI Propoelix™ telah teruji klinis dan kaya antioksidan untuk bantu jaga daya tahan tubuh dan kesehatan menyeluruh. Selain itu, bagi penderita DBD, HDI Propoelix™ membantu mendukung peningkatan dan percepatan kenaikan trombosit, sekaligus membantu mempersingkat masa rawat inap pasien demam berdarah.

Ditambah lagi, HDI Propoelix™ juga mampu melawan proses oksidasi yang merugikan dan menghambat peradangan atau antiinflamasi.
Yuk, mulai konsumsi HDI Propoelix™ secara rutin! Dapatkan HDI Propoelix™ dan produk perlebahan lainnya dari HDI di hdi.com.
Sumber:
- https://www.alodokter.com/5-gejala-dbd-pada-anak-yang-harus-diwaspadai
- https://www.family.abbott/id-id/pediasure/tools-and-resources/infos-about-child-growth/child-health/ciri-ciri-dbd.html
- https://www.kidshealth.org.nz/dengue-fever-in-children
Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh secara Alami
8 Manfaat Propolis untuk Kesehatanmu